Categories
Uncategorized

Pernikahan Bukan Hanya Soal Cinta dan Usia

Pixabay.com/Vetonethemi

stroberi.us,- Untuk kamu yang berniat melangsungkan pernikahan, apakah sudah nyakin? Sebelum itu, alangkah baiknya kamu renungkan lagi niatan tersebut.

Iya memang sangat melelahkan jika selalu saja mendapat pertanyan kapan nikah, bukanya sudah ada pasangannya, sudah ada kerjaan, usia sudah matang pula.

Plis deh, nikahan itu bukan melulu soal cinta, usia, dan mapan. Lebih dari itu, bagaimana perjalanan selanjutnya usai acara respsi pernikahan usai dan babak baru dalam bahtera rumah tangga dimulai dan berakhir sampai maut memisahkan.

Setidaknya itulah impian setiap orang yang melangsungkan pernikahan, hidup bahagia selamanya. Sudah lakyanya dongeng seorang putri yang bahagia menikah dengan pangeran atau film sinetron yang menawaran kebahagian pada ujung cerita.

Dalam dunia nyata yang akan kamu jalani bersama pasangan dalam bahtera rumah tangga bisa sangat jauh beda. Beda pandangan, beda kebiasan, dan beda lainya. Dari yang beda membuat kalian meributkan hal-hal kecil yang sampai berjujung pada perceraian.

Berdasarkan data dari website Mahkamah Agung, sebanyak 419.268 pasangan memutuskan untuk bercerai di sepanjang tahun 2018. Angka ini cenderung terus melonjak setiap tahunnya. Di Kota Bekasi saja, ada 1.739 perkara perceraian terjadi pada 2019. Jumlah ini lebih banyak jika dibandingkan tahun 2018 dimana ada 1.255 perkara.

Saat bercerai apakah tidak ada cinta atau ekonomi merosot atau umur? Setiap orang mungkin punya jawaban masing-masing.

Untuk itu coba pertimbangkan baik-baik, apakah benar kamu sudah siap secara lahir dan batin. Ingat, apa saja yang perlu pertimbangan adalah bukan pada acara, lagian untuk melangsungkan pernikah itu enggak rumit-rumit amat, cuma memenuhi syarat syah nikah plus modal pesta (kalau ada), selesai sudah.

Setidaknya banyak pertimbangan yang perlu dipertimbangkan selain uang, ekonomi, dan usia. Kamu harus rela kebebasan berganti dengan tanggung jawab.

Nantinya kamu sendiri akna merasakan saat status di KTP berubah, kamu akan merasakan bagiamana kehidupan kamu akan berubah draktis, jika saat lajang kamu bebas mau ngapain saja.

Namun, perlahan-lahan kebebasan kamu akan berganti akan beralih menjadi tanggungjawab. Kamu tak lagi berpikiran untuk senang-senang usai mendapatkan gajih, menimal kamu memikirkan pangan, sandang, dan papan untuk keluarga yang tengah kamu bina.

Hal lainya, adalah bagiamana hidup kamu yang setidaknya mulai diatur oleh pasangan, sikap mertua dan lainya.

Untuk itu, ada banyak adaptasi, penyesuaian, proses pembelajaran dan perlakuan yang harus terus dilakukan setiap hari, sepanjang tahun, dan seumur hidup agar pernikahan tetap bertahan.

Selain cinta dan ekonomi, pernikahan juga butuh komitmen kuat. Sebab, cinta dan ekonomi bisa pasang surut.

Memang cinta awal dari menjalin hubungan meskipun hanya bersatus pacar. Status tersebutlah yang membuat kamu memutuskan untuk menikahinya.

Namun, kamu juga mesti paham rasa cinta bisa berganti benci yang bermuara pada putus. Sebuah keputusan enggak bakal serumit jika status kamu menikah.

Kata putus dalam penikahan tak hanya melibat kamu dan pasangan, tapi juga melibatkan banyak orang, bahkan dapat mengorbankan buah hati kamu dan pasangan.

Karena itu, dalam pernikahan juga dibutuhkan komitmen sebagai kuat tiang rumah tangga, komitmen yang akan membuat pernikahanmu bertahan selaamanya.

Dan untuk menjaga komitmen ini agar tetap kuat, kamu juga dibutuhan untuk selalu belajar menerima segala hal dari pasangan kamu, entah itu sikapnya kadang-kadang seperti anak-anak.

Dan tak kalah penting dalam pernikahan adalah rasa saling percaya sehingga bisa menguatkan ikatan rumah tangga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *