Setelah Sekian Lama, Apakah Kamu Menyesal

0
269

Apa Kabar?

Kata tersebut, bagiku sudah cukup menyembuhkan dahaga meskipun hanya melalui sepucuk surat. Apa susahnya mengirimkan surat. Aku yakin kamu enggak bakal mengalami kesusahan menumpakan  satu atau dua kata dalam secarik kertas. Bukitnya, dulu saja kamu begitu rajin mengirimkan sepucuk surat.

Kamu tau kan, aku tengah menanti kehadiranmu bukan hanya dalam hitungan jam saja, tapi sudah bertahun-tahun lamanya. Sejak saat itu, kamu melangkah begitu saja tak ubahnya hembusan angin yang menyapa lalu hilang begitu saja.

Terkadang aku ingin sekali mengakhir segala penantian yang tak jelas sampai kapan. Namun hanya dalam hitungan detik pikiran tersebut tergantikan dengan senyumanmu. Bagaimana mungkin aku dapat mencabut rasa yang begitu halus kamu tanamkan dalam hati ini, meskipun lebih banyak air mata dan marah.

Iya, intinya aku masih berharap kabar darimu dan mendengar langsung kejelasan kisah asmara yang telah kita rajut. Apakah kamu masih ingin hubungan kita terus berlanjut atau sudahi saja. Atau mungkin tanpa adanya kabar darimu sebagai tanda namaku telah terhapus dalam hatimu.

 

Jangan Kamu Anggap Tak Setia, Aku Sudah Lelah

Menanti-Kekasih

Jangan kamu anggap aku tak setia, aku benar-benar merasakan begitu lelah menantikan kebar darimu. Hampir setiap hari aku mendatangi tempat kita bertemu dengan penuh harap. Harapan akan hadirnya surat darimu, syukur-syukur mendapati dirimu dalam kenyataan.

Tapi apa yang aku dapat, aku pulang dengan kehampaan. Sebuah kehampaan yang selalu saja aku isi dengan kenangan manis kita. Sambil bertanya-tanya, apakah kamu merasakan kerinduan sebagaimana yang aku rasakan.

Apakah kamu Menyesal?

Saat-memutuskan-menikah

Setelah sekian tahun lamanya, saat aku telah memutuskan untuk mengakhiri penantian ini dengan membuka lembaran baru. Iya, aku telah memutuskan untuk mengahapuskan segala mimpi tentang dirimu dengan membiarkan orang lain masuk dalam kehidupan.

Memang dia bukan untuk menggantikan kamu, tapi setidaknya dia telah berhasil menghapuskan air mata ini dengna senyuman.

Oh, kenapa baru sekarang kamu kembali hadir. Kamu yang dulu berlalu begitu saja tanpa kabar dan membiarkan aku terjebak dalam penantian. Kini, kamu hadir begitu saja tanpa diundang, begitu rajin menayakan perihal kabar dengan sedikit menyinggung perihal kenangan.